Belajar dari Peringatan RA KARTINI

June 17, 2011

April 21, 2011.

Seperti yang lazim di sepanjang tahun, tanggal 21 April diperingati oleh bangsa Indonesia, peringatan Hari Kartini. Read the rest of this entry »


Belajar dari AIR ASIA

June 17, 2011

March 11, 2011

Sebagian besar kita mungkin sudah tahu tentang penerbangan murah maskapai AIR ASIA. Bayangkan, di bulan Maret 2011 Read the rest of this entry »


Hari IBU 2010

June 17, 2011

Hari ini, tanggal 22 desember 2010, bangsa Indonesia memperingati HARI IBU, sebuah peringatan khusus untuk Read the rest of this entry »


Kericuhan Sidang Paripurna DPR

June 17, 2011

Lengkap sudah kemerosotan bangsa yang besar ini. Hampir tidak ada sisi dari bangsa ini yang tidak mengalami kemunduran, bahkan (na’udzu billah) “kehancuran”. Read the rest of this entry »


Gotong Royong Ala Indonesia Modern

June 17, 2011

Januari 10, 2010.

Gotong royong ala Indonesia…Dulu, di pelajaran sekolah sekitar tahun 1960 hingga 75-an, masih kerap terdengan tentang budaya GOTONG ROYONG Read the rest of this entry »


Hari HAM (Hak Asasi Manusia) Sedunia

June 17, 2011

Peringatan Hari Hak Asasi Manusia sedunia, 10 Desember.

Seperti hari sebelumnya, hari ini Kamis 10 Desember 2009, Indonesia, terutama di beberapa kota besar meriah menyambut peringatan Hari Hak Assi Manusia se-dunia setelah sehari sebelumnya memperingati Hari Anti Korupsi.

Meriah sekali sebagian pendemo menerkakkan motto hingga kecaman tentang betapa mendasarnya Hak Asasi Manusia bagi setiap individu yang sampai hari ini masih terampas oleh ketidaksengajaan, kebodohan bahkan kesengajaan pihak-pihak tertentu.

Di sepanjang kita mengamati meriahnya peringatan itu, masih terngiang harapan indah atas hak asai kita semua, ini sebuah hal yang baik utuk membangkitkan semangat dan mengingatkan orang-orang yang lupa dan sengaja melanggar hak asasi.

Tapi, bayangan tinggallah bayangan, impian tinggallah impian, karena sampai detik ini kita baru bisa meneriakkan hak asasi bagi diri kita, tetapi pada giliran merealisasikan hak asasi kita tentang pendidikan misalnya, masih banyak yang tidak sekeras bicaranya menyuarakan hak-haknya.

Apakah kita semua, bangsa ini, keras belajar dengan baik sekeras teriakan kita?  Apakah kita semua, bangsa ini, juga keras memperbaiki diri sekeras teriakan kita? ……?????


Gedung Sate & Lapangan GASIBU

June 17, 2011

Selasa dan rabu, 8-9 Desember 2009, saya berkesempatan kembali ke P4TK IPA, yakni Pusat Pelatihan dan Pengembangan Guru IPA yang berlokasi di Jalan Diponegoro tak berpa jauh dari Gubernuran, Gedung Sate dan Lapangan Gasibu, sebuah lapangan yang terkenal di Bandung.

Malam hari selepas kegiatan hari Selasa, 8 Desember 2009, sekitar pukul 18.45wib saya bersama nara sumber lain yang berasal dari P4TK Matematika Yogyakarta, Pak Markaban dan Pak Margono, berkesempatan jalan ke arah Gedung Sate dan Lapangan Gasibu.

Kami sejenak duduk-duduk santai di pelataran Lapangan Gasibu yang luas dan cukup sepi pengunjung. Lapangannya, untuk ukuran front-face dari area gubernuran, menurut saya kurang terawat. Meskipun tidak banyak, tetapi lumayan berserakan sampah dan sebagian CON-BLOCK yang menjadi alas sebagian lapangan sudah mulai tidak rata.

Dari arah lapangan, kami duduk santai memandangai Gedung Sate, gedung kebanggan Bandung (Jawa Barat) yang sepi. Di depannya, tampak beberapa pedagang kaki lima (minuman dan makanan) yang berjajar dipenuhi beberapa sepeda motor yang parkir di depan gerbang Kantor Gubernuran itu. Sepi sekali gedung Sate itu, mungkin tidak seperti siang hari yang begitu ramai dengan aktifitas, bahkan mungkin ramai dengan sebagian demo yang terjadi.

Sambil melihat Gedung Sate, pikiran melayang-layang jauh ke alam bebas, membayangkan betapa rindunya alam, bangsa dan negeri Indonesia yang penuh dengan kebaikan, kemakmuran dan keadilan yang hari ini belum didapati, malahan tampaknya negeri yang kian terpuruk dengan demokrasi yang agak kurang kendali.

Oh indahnya… Tapi mungkinkah? Jelas mungkin jika kita semua mau !!!


Idealisme di Persimpangan

June 17, 2011

Pagi ini, Kamis 05 Nopember 2009, seperti biasanya dengan sepeda motor saya berburu waktu menuju tempat mengajar di SMA Negeri Unggulan M.H. Thamrin Jakarta Timur.
Seperti biasanya juga di jalan raya kota Jakarta berburu dengan kemacetan, ketergesaan dan kekacauan.
Bukan sekali memang, kejadian pengendara saling serobot seenaknya, baik motor maupun mobil. Tapi kali ini membuat hati ragu untuk “istiqomah” dalam kebaikan dan keteraturan.
Betapa tidak? di suatu perempatan jalan raya, seperti biasanya sebagian besar sepeda motor berburu sedekat mungkin dengan lampu merah di perempatan. Kontan saja ini membuat sepeda motor “menguasai” penuh perempatan dan tampak terlihat menggelembung di perempatan. Tak perduli ada polisi atau tidak, itulah yang terjadi hampir setiap hari.
Pada saat lampu di bagian saya berhenti di perempatan masih menyala merah, karena bagian lain mulai agak berkurang kendaraan yang lewat, praktis sebagian sepeda motor curi-curi kesempatanm untuk menerobos. Satu dua motor sudah kabur menerjang lampu merah. Begitu ada kesempatan lagi, melajulah beberapa motor lagi. Begitulah seterusnya.
Dan, persis pada saat ruas sebelah kiri mulai bergerak sesuai bagiannya ke arah kanan seberang kami, maka suasana di depan tentu kosong kendaraan dari berbagai arah. Tak pelak, situasi itu dimanfaatkan sebagian besar kendaraan dari arah kami bergerak maju, hampir semuanya bergerak.
Tinggal saya dalam kegalauan pada saat klakson kendaraan di belakang berbunyi kencang meminta saya ikut bergerak juga walaupun sebenarnya belum waktu atau bagiannya.
Sumpah serapah terdengar pada saat saya tetap diam tidak bergerak. “Goblok, maju dong!!!” begitu teriaknya. Bahkan, karena saya tidak juga beranjak, pengendara lain lebih kasar lagi membentak, “Hei, congek apa ya? maju dong…!!!”.
Bersyukur, di sebelah kanan saya juga masih tetap diam tidak ikutan bergerak maju memenuhi perempatan yang sudah sangat semrawut. Terdengar dari nada suaranya, sepertinya beliau sudah cukup berusia, mungkin sekitar 50-an tahun.
Ujarnya, “Yah beginilah Mas bangsa kita. Hampir semuanya tak peduli dengan keselamatan apalagi aturan lalu lintas. Semua hanya memikirkan diri sendiri, yang penting dirinya dapet, cepet. Tidak peduli orang lain dirugikan atau membahayakan keselamatan”.
Katanya lagi, “Kadang mereka suka ada yang bilang, ngapain taat ama peraturan segala. Emangnya kalo telat kerja, trus dipecat, polisi atau orang lain mau nolongin kita? Udah, kalo ada kesempatan cabut aja. Wong para pejabat di atas aja nggak ada yang bisa dicontoh. Kita yang taat malahan rugi tau?”
Masya Allah, haruskah saya juga berpendapat seperti itu? Semakin kita berusaha mengikuti aturan, justru semakin dipinggirkan, semakin ditinggalkan dan semakin dirugikan orang lain. Rugi sendiri jadinya.
Wah, idealismeku tertantang di persimpangan. Akankah bertahan dan ditinggalkan? ataukah ikut arus dan mulus …..?
Bagaimana dengan Anda ???


Merdeka Apakah Berarti Bebas?

June 17, 2011

17 Agustus 2009, gemerlap semangat kemerdekaan Republik Indonesia kembali terkibarkan. Mengenang dan membangkitkan nilai juang mengisi kemerdekaan selama 64 tahun.

Di sebagian tempat, peringatan HUT Kemerdekaan RI ini masih cukup “heboh”. Seperti yang terjadi di MENADO, Sulawesi Utara. Event yang fantastik dengan adanya pencatat GUINESS BOOK of THE RECORD yang mencatatkan Penyelaman Terbanyak di dunia. Dan keesokan harinya, Upacara Peringatan Kemerdekaan yang diadakan di dalam laut.
Tapi entah mengapa, gemerlap kemerdekaan tahun ini, di sebagian tempatlain terasa tidak “seheboh” sebelumnya.
Banyak tafsiran atas alasan kejdaian ini, misalnya:
1. Bangsa ini tetap merasa bangga dan “heboh”, tetapi tidak terlalu menampakkannya;
2. Waktu yang agak mepet dengan datangnya bulan Ramadhan, sehingga terpecahnya konsentrasi menghadapinya;
3. Bangsa ini semakin berat menjalani kehidupan yang semakin sulit.
4. Ataukah?… masyarakat kini mengalami sikap reinterpretasi mengenai makna kemerdekaan selama ini?
5. Atau juga?… karena masyarakat tidak cukup punya alasan untuk heboh, karena tidak banyak “kemakmuran” yang dinikmati dari negeri yang sebenarnya sangat makmur ini.
Wallahu a’lam, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Di sisi lain, tafsir arti kemerdekaan terlihat saling simpang-siur.
Sebagian anak bangsa ini menfsirkan arti kemerdekaan semata-mata sebagai kebebasan, bahkan
bebas tanpa batas. Bebas untuk melakukan apa saja yang kita mau.
Padahal, merdeka atau bebas dalam arti yang sesungguhnya, yakni tanpa adanya arahan, paksaan, tuntutan atau mengikuti kehendak pihak lain, memang tidak akan pernah kita dapatkan.
Sebab, pada saat kita menyatakan bebas semau sendiri, sesungguhnya kita sedang “terdominasi” atau mentaati kemauan diri sendiri. Jadi, apakah berarti kita bebas dalam arti sesungguhnya?
Tafsir “merdeka” yang lebih dekat adalah merdeka dan bebas dari segala arahan, paksaan, tuntutan atau mengikuti kehendak sesama makhluk. Karena, berarti kita menjadi tidak independen dan tidak bermartabat.
Oleh karena itu, yang paling wajar dan bermartabat adalah mengikuti arahan, paksaan, tuntutan dari Yang Maha Kuasa atas kita semua, para makhluknya.
Wallahu a’lam.


Gagal

June 17, 2011

Juli 28, 2009.

Pada setiap kali kita mengalami kegagalan, ketidaksesuaian dengan harapan atau ketidaknyamanan, yang paling “legal” kita lakukan adalah mengeluh, mencaci orang lain bahkan mencaci dan menyalahkan diri sendiri. Haruskah demikian?

Bukan berarti kita tidak boleh kesal dan kecewa terhadap semua itu. Akan tetapi, hal yang patut kita renungkan adalah, apakah keinginan kita (disikapi orang lain) pada saat kitamelakukan kesalahan, kegagalan atau ketidaksempurnaan? Jika kita kita ingin dimaklumi dan dimaafkan, maka maklumilah orang lain dan maafkanlah. Ajaklah dan arahkan mereka menuju ke arah yang benar sesuai harapan. Beri kepercayaan, beri kesempatan dan bimbingan, karena pada dasarnya semua orang tidak ingin dirinya gagal.


Sajian “Dinner” Istimewa

June 17, 2011

Ahad, 7 Juni 2009, selepas mengajar kuliah di STAI Fatahillah, Serpong Tangerang, saya bergegas pulang ke rumah.
Saya agak terburu-buru karena istriku sudah berkali-kali kirim SMS agar cepat pulang, ada “surprise” katanya.
Yah, memang, sepulang dari Bandung semalam, saya belum banyak bercengkerama dengan anak-anak, karena harus mengajar di kampus.
Sesampai di rumah, saya agak kaget atas ulah anak-anak yang tidak seperti biasanya.
Mereka, sudah menyiapkan makanan kesukaanku, udang!!! ya sambal goreng kentang dengan udang.
Subhanallah, terima kasih anak-anakku….
Memang, terkadang penghargaan bukan pada besarnya nilai atau harga, tapi pada ketulusannya….


Menikmati Hidup

June 17, 2011

May 13, 2009

Kadang lucu dan ironis memang, seperti saya lihat siang Selasa ini, 12 Mei 2009.
Beberapa tukang gali tanah di suatu ruas jalan raya, sedang begitu santainya merokok di pinggir got yang kotor setelah mereka makan siang di sebuah WARTEG di pinggir jalan.
Padahal, menu yang mereka makan, terkadang hanya nasi dengan sayur berkuah banyak dan sepotong tempe, ditambah minum air lebih dari dua gelas untuk lebih mengenyangkan perutnya. Sesudahnya, mereka merokok dengan rokok murahan, yang harganya mungkin seperempat dari rokok mahal yang ada. Merokonya di pinggir got yang kotor dan bau.
Tapi, lagi-lagi, anehnya mereka sepertinya begitu menikmati setiap isapan asap rokoknya. Begitu indah hidupnya, seperti tanpa beban.
Pemandangan itu agak berbeda dengan sebagian orang-orang kaya, yang belum tentu bisa menikmati makan siangnya, padahal mereka makan di tempat yang begitu mewah dan mahal tentunya.
Ruang makan rumahnya saja mungkin berlampu kristal yang berharga mahal dengan meja terbuat dari batu pualam indah.
Tapi, lagi-lagi, sebagian orang kaya itu mungkin begitu sulitnya untuk makan dengan nikmat, padahal, mungkin saja mereka makan siang di Singapur atau Malaysia.
Apa sebenarnya yang menjadi pokok masalah ini? Yang satu miskin tapi begitu menikmati khidup kesehariannya, sedangkan yang satunya lagi kaya tapi begitu tersiksa?
Orang bijak mengatakan, pokok persoalnnya adalah terletak dari bagaimana kita menikmati hidup.
Masalah yang timbul pada kita, sebenarnya bukan besarnya masalah yang akan menghancurkan kita, tetapi karena sikap kita menghadapi masalah itu. Meskipun berat terasa beban yang kita hadapi, jika kita tetap “mengalir” menjalani hidup, yakin akan ketetnuan Allah, niscaya tidak ada yang membuat risau. Tapi, jika kita menyikapi permasalahan dengan sikap yang salah, maka masalah kecilpun bisa saja menghancurkan kita.
Haruskah?


Tumpul Perasaan

June 17, 2011

Selasa ini, 12 Mei 2009, setidaknya saya mendapat beberapa pelajaran dan renungan. Diantaranya, pelajaran tentang tumpulnya perasaan bangsa kita.
Hampir setiap kali melihat di perjalanan, kendaraan angkutan penumpang, baik bis, angkot, taksi, bajaj, bahkan kendaraan pribadi sekalipun, harus selalu “diusir” dengan cara “klaksonisasi”, membunyikan klakson secara rame-rame jika lalu lintas macet karena ulah pengendara yang seenaknya berhenti di sembarang tempat, apalagi di perempatan jalan atau tempat yang sangat padat.
Berhenti seenaknya, menaikkan atau menurunkan penumpang seenaknya, bukan di tempat yang diizinkan, berbelok atau berbalik arah semaunya, nyelonong di lampu merah, padahal lampu merah sudah menyala, dan seterusnya, dan seterusnya.
Itu hanya sekelumit keamburadulan sikap yang tumpul perasaan. Itupun baru sikap di jalanan, apalagi di tempat atau keadaan yang lain.
Entah apa yang sudah dan sedang terjadi pada bangsa ini?
Pada saat kendaraan di depan kita berbelok seenaknya tanpa memberikan lampu sen, atau di tempat yang sebenarnya dilarang, anehnya, pada saat kita marah menegurnya, ia malah berbalik lebih marah lagi, bahkan berkata-kata lebih kasar.
Pada saat kendaraan di belakang kita menabrak kendaraan kita, mungkin memang tidak sengaja, tetapi pada saat kita tegur, justru ia yang melotot menunjukkan kemarahannya.
Di saat lalu lintas sedang sibuk, sebagian tidak perduli menyerobot, memotong jalan yang bukan haknya, ia tidak perduli apakah orang lain menjadi terhalang karenanya, bahkan menjadi celaka. Dan, ia begitu santainya “ngeloyor” pergi meninggalkan tempat begitu saja meskipun karena ulahnya menyebabkan kendaraan lain jatuh atau lecet.
Masya Allah, apa yang sudah dan sedang terjadi pada bangsa ini? Bangsa yang TUMPUL PERASAAN?
Begitu juga di antrian pembayaran misalnya. Sebagian tak tahu malu menyerobot antrian seenaknya tanpa mempedulikan orang lain yang telah dizhaliminya.
Melihat musibah yang terjadi di depan matanya, ia begitu saja pergi meninggalkannya tanpa sedikitpun tergerak untuk menolongnya. Paling bagus ia hanya melihat sebentar, lalu ia menelepon polisi atau memberitahukan ke orang-orang sekitar tentang musibah yang baru saja dilihatnya.
Ya Allah, apa yang sudah dan sedang terjadi pada bangsa ini? Bangsa yang TUMPUL PERASAAN ……


KLAKSONISASI

June 17, 2011

Senin pagi ini, 11 Mei 2009, seperti biasanya saya berangkat ke tempat mengajar menembus gelapnya malam ba’da shubuh, apalagi hari ini saya harus lebih pagi dari biasanya, karena siswa kelas XII SMK 45 murid-muridku, akan menjalani rangkaian ujian akhir, yakni Ujian Sekolah untuk enam mata pelajaran: Agama, PKn/Sejarah, Penjaskes (olahraga), Ekonomi, Kewirausahaan dan KKPI (Komputer), sementara saya menjadi panitia Ujian Nasional tahun ini.
Sepanjang perjalanan, suasana pagi yang sudah mulai menggeliat, bahkan sudah ramai, kendaraan pun berlalu lalang begitu sibuknya, padahal masih cukup gelap.
Agak lancar perjalanan sebelum sampai di Ciputat. Tetapi, setelah sampai di Ciputat, lalu lintas kendaraan sudah mulai tersendat seperti biasanya, di samping karena adanya “pasar tumpah” yang memakan sebagian jalan raya, lebih dari itu, mobil-mobil angkutan penumpang, baik bis kota maupun angkot banyak yang sengaja memperlambat laju kendaraannya, bahkan seenaknya berhenti di tengah jalan tanpa memperdulikan kendaraan di belakangnya.
Inilah pemandangan rutin setiap pagi yang biasa saya lihat. Saya harus terus bersabar untuk menyaksikan kesewenang-wenangan itu setiap harinya, baik sewaktu berngkat ataupun pulang kerja.
Pagi ini, persis di tanjakan jembatan layang Ciputat, angkot “nakal” kembali berulah. Ia berhenti begitu saja menurunkan penumpang. Yang lebih menyebalkannya, ia justru berhenti dengan posisi melintang, separuh badan anglotnya masih di tengah jalan, separuhnya lagi sudah belok ke kiri seperti hendak minggir.
Kontan saja, kami pengendara di belakangnya mengumpat-umpat melihat ulahnya. Dan, seperti biasa juga, senjata yang jitu pun dikeluarkan, yaitu “KLAKSONISASI”.
Maksudnya, membunyikan klakson untuk menghalau kendaraan di depan yang sengaja berhenti seenaknya. Hampir semua kendaraan membunyikan klakson secara bersamaan saking kesalnya. Biasanya, jika itu sudah dilakukan, barulah angkot atau kendaraan nakal itu beranjak pergi atau meminggirkan kendaraannya sambil melengos menghindari tatapan pengendara di belakangnya yang sudah kesal. Herannya, dengan wajah yang “innousence” tanpa merasa bersalah.
Masya Allah, beginilah keadaan bangsa kita ini. Haruskah selalu dengan klaksonisasi untuk menghalau kemacetan?


Link-link Islami

February 4, 2009

Berikut adalah  link-link  Islami  yang dapat dikunjungi:

Read the rest of this entry »


Hello world!

January 10, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!