Seri HAJI: Jenis Pendaftaran Haji Indonesia

January 20, 2012

Jenis dan tatacara pendaftaran haji di Indonesia, secara global terdiri dari 2 (dua), yaitu:

1. Haji REGULER atau Haji BIASA

– Haji reguler, sesuai namanya adalah haji umum/biasa program pemerintah. Biasa, baik dalam prosesnya, pengurusannya atupun fasilitas yang diperoleh. Haji reguler waktu pelaksanaannya sekitar 40 hari (29 hari di Makkah dan 9 hari di Madinah dan 2 hari perjalanan). Selama kegiatan haji di tanah suci, jamaah mengikuti program pemerintah dengan fasilitas biasa. Hotel di Madinah umumnya bintang *3 dengan jarak 150-300 meter dari Masjid Nabawi. Sedangkan tinggal di Makkah pada umumnya berupa pondokan haji (maktab) berjarak 500 – 3000 meter dari Masjidil Haram. Bagi yang jaraknya agak jauh dari Masjidil Haram, pergi-pulang ke masjid dengan bis rombongan ataupun naik angkutan umum. Read the rest of this entry »

Advertisements

Seri HAJI: Jenis Pelaksanaan Ibadah HAJI

January 20, 2012

Berikut ini saya sampaikan risalah sederhana (agar mudah dimengerti, terutama bagi yang masih awam) tentang Risalah Haji secara berkelanjutan.

JENIS PELAKSANAAN IBADAH HAJI
Pelaksanaan ibadah Haji dapat dilakukan dengan 3 (tiga) jenis, yaitu:

1. Haji TAMATTU’
Haji Tamattu’ pelaksanaannya dengan melakukan UMRAH (wajib) terlebih dahulu sebelum ibadah haji (puncak), baru kemudian HAJI.
Selama menunggu ibadah haji, sesudah umrah wajib, jamaah berpakaian biasa (tidak berihram).
Jika cara haji Tamattu’ ini yang dilaksanakan, maka wajib membayar DAM (denda) dengan menyembelih dan menyedekahkan kambing atau unta di tanah suci. Read the rest of this entry »


Berjabat Tangan dengan Wanita Muslim

August 15, 2011

Ketika seorang Inggris bertanya kepada seorang Syekh,
“Syekh, mengapa wanita Muslim tidak boleh berjabat tangan dengan lelaki?”, maka dengan tersenyum Sykeh balik bertanya
“Apakah Anda bisa berjabat tangan dengan Ratu Elizabeth?”. Dia pun menjawab
“Tidak bisa, hanya orang-orang tertentu saja yang boleh berjabat tangan dengan Ratu”. Kemudian Syekh berkata
“Begitulah wanita Muslim, mereka adalah bagai ratu, tidak berjabat tangan kecuali dengan mahromnya”


Hari IBU 2010

June 17, 2011

Hari ini, tanggal 22 desember 2010, bangsa Indonesia memperingati HARI IBU, sebuah peringatan khusus untuk Read the rest of this entry »


Bersyukur Atas Nikmat yang “Sedikit”

June 17, 2011

August 30, 2009.

Bersykur atas nikmat yang banyak, biasanya agak lebih mudah, tetapi jika nikmat yang diterimanya sedikit, biasanya agak sulit untuk bersyukur. Padahal, Read the rest of this entry »


Idealisme di Persimpangan

June 17, 2011

Pagi ini, Kamis 05 Nopember 2009, seperti biasanya dengan sepeda motor saya berburu waktu menuju tempat mengajar di SMA Negeri Unggulan M.H. Thamrin Jakarta Timur.
Seperti biasanya juga di jalan raya kota Jakarta berburu dengan kemacetan, ketergesaan dan kekacauan.
Bukan sekali memang, kejadian pengendara saling serobot seenaknya, baik motor maupun mobil. Tapi kali ini membuat hati ragu untuk “istiqomah” dalam kebaikan dan keteraturan.
Betapa tidak? di suatu perempatan jalan raya, seperti biasanya sebagian besar sepeda motor berburu sedekat mungkin dengan lampu merah di perempatan. Kontan saja ini membuat sepeda motor “menguasai” penuh perempatan dan tampak terlihat menggelembung di perempatan. Tak perduli ada polisi atau tidak, itulah yang terjadi hampir setiap hari.
Pada saat lampu di bagian saya berhenti di perempatan masih menyala merah, karena bagian lain mulai agak berkurang kendaraan yang lewat, praktis sebagian sepeda motor curi-curi kesempatanm untuk menerobos. Satu dua motor sudah kabur menerjang lampu merah. Begitu ada kesempatan lagi, melajulah beberapa motor lagi. Begitulah seterusnya.
Dan, persis pada saat ruas sebelah kiri mulai bergerak sesuai bagiannya ke arah kanan seberang kami, maka suasana di depan tentu kosong kendaraan dari berbagai arah. Tak pelak, situasi itu dimanfaatkan sebagian besar kendaraan dari arah kami bergerak maju, hampir semuanya bergerak.
Tinggal saya dalam kegalauan pada saat klakson kendaraan di belakang berbunyi kencang meminta saya ikut bergerak juga walaupun sebenarnya belum waktu atau bagiannya.
Sumpah serapah terdengar pada saat saya tetap diam tidak bergerak. “Goblok, maju dong!!!” begitu teriaknya. Bahkan, karena saya tidak juga beranjak, pengendara lain lebih kasar lagi membentak, “Hei, congek apa ya? maju dong…!!!”.
Bersyukur, di sebelah kanan saya juga masih tetap diam tidak ikutan bergerak maju memenuhi perempatan yang sudah sangat semrawut. Terdengar dari nada suaranya, sepertinya beliau sudah cukup berusia, mungkin sekitar 50-an tahun.
Ujarnya, “Yah beginilah Mas bangsa kita. Hampir semuanya tak peduli dengan keselamatan apalagi aturan lalu lintas. Semua hanya memikirkan diri sendiri, yang penting dirinya dapet, cepet. Tidak peduli orang lain dirugikan atau membahayakan keselamatan”.
Katanya lagi, “Kadang mereka suka ada yang bilang, ngapain taat ama peraturan segala. Emangnya kalo telat kerja, trus dipecat, polisi atau orang lain mau nolongin kita? Udah, kalo ada kesempatan cabut aja. Wong para pejabat di atas aja nggak ada yang bisa dicontoh. Kita yang taat malahan rugi tau?”
Masya Allah, haruskah saya juga berpendapat seperti itu? Semakin kita berusaha mengikuti aturan, justru semakin dipinggirkan, semakin ditinggalkan dan semakin dirugikan orang lain. Rugi sendiri jadinya.
Wah, idealismeku tertantang di persimpangan. Akankah bertahan dan ditinggalkan? ataukah ikut arus dan mulus …..?
Bagaimana dengan Anda ???


Gagal

June 17, 2011

Juli 28, 2009.

Pada setiap kali kita mengalami kegagalan, ketidaksesuaian dengan harapan atau ketidaknyamanan, yang paling “legal” kita lakukan adalah mengeluh, mencaci orang lain bahkan mencaci dan menyalahkan diri sendiri. Haruskah demikian?

Bukan berarti kita tidak boleh kesal dan kecewa terhadap semua itu. Akan tetapi, hal yang patut kita renungkan adalah, apakah keinginan kita (disikapi orang lain) pada saat kitamelakukan kesalahan, kegagalan atau ketidaksempurnaan? Jika kita kita ingin dimaklumi dan dimaafkan, maka maklumilah orang lain dan maafkanlah. Ajaklah dan arahkan mereka menuju ke arah yang benar sesuai harapan. Beri kepercayaan, beri kesempatan dan bimbingan, karena pada dasarnya semua orang tidak ingin dirinya gagal.