Bersyukur Atas Nikmat yang “Sedikit”

June 17, 2011

August 30, 2009.

Bersykur atas nikmat yang banyak, biasanya agak lebih mudah, tetapi jika nikmat yang diterimanya sedikit, biasanya agak sulit untuk bersyukur. Padahal, Read the rest of this entry »

Advertisements

Gagal

June 17, 2011

Juli 28, 2009.

Pada setiap kali kita mengalami kegagalan, ketidaksesuaian dengan harapan atau ketidaknyamanan, yang paling “legal” kita lakukan adalah mengeluh, mencaci orang lain bahkan mencaci dan menyalahkan diri sendiri. Haruskah demikian?

Bukan berarti kita tidak boleh kesal dan kecewa terhadap semua itu. Akan tetapi, hal yang patut kita renungkan adalah, apakah keinginan kita (disikapi orang lain) pada saat kitamelakukan kesalahan, kegagalan atau ketidaksempurnaan? Jika kita kita ingin dimaklumi dan dimaafkan, maka maklumilah orang lain dan maafkanlah. Ajaklah dan arahkan mereka menuju ke arah yang benar sesuai harapan. Beri kepercayaan, beri kesempatan dan bimbingan, karena pada dasarnya semua orang tidak ingin dirinya gagal.


Mendung Tak Selamanya kan Hujan

June 17, 2011

Mendung tak berarti pasti hujan, bahkan mungkin sesudah itu malah menjadi cerah berbinar.
Ungkapan itu bukan hanya pepatah, tetapi memang panduan realita kehidupan.
Dalam kehidupan, kadang kesulitan melanda, tapi percayalah, itu bukan akhir dari segalanya.
Esok hari, selalu ada jalan keluar, asalkan SABAR dan IKHTIAR. “Di setiap kesulitan ada kemudahan [QS. Alam Nasyrah:5-6″.
Begitu sebaliknya, kemudahan, bahkan kemakmuran yang kita dapati hari ini, belum tentu kita masih dapati di keesokan harinya.
Tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini.
Karena itu, pandailah bersabar dan berikhtiar selagi dalam kesulitan, dan pandailah bersyukur selagi dalam kemudahan.


NI’MAT DARI “SAKIT”

February 27, 2009

Kemarin pagi, sedianya saya melakukan banyak hal, seperti malam sebelumnya saya sudah merencanakannya. Tetapi apa mau dikata? pagi itu badan saya tidak bisa diajak kompromi, kepala “keleyengan” dan perut mual hingga muntah-muntah.

Subhanallah, rupanya aku harus istirahat. Akhirnya, aku pun beristirahat sambil menikmati secangkir teh pahit panas yang disuguhkan istriku sebelum ia berangkat mengajar. Hampir seharian aku terbaring, tanpa bisa melakukan banyak hal.

Ya Allah, baru kita menyadari, bahwa jika Allah berkehendak atas sesuatu, maka kita tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menjalaninya meski dengan terpaksa.

Setumpuk agenda pun kandas tak terlaksana, rupanya manusia memang hanya “harus” berencana, Allah-lah yang menentukan. Semalam sebelumnya, tanpa terasa apapun, bahwa aku harus sakit keesokan harinya, tapi…??? Aku (mungkin juga kita), baru menyadari, betapa nikmatnya sehat, dan baru menyadari, bahwa melalui sakit, kita bisa bersyukur kepada-Nya.

Allah Yang Maha Kuasa atas Segala Sesuatu, maka berusahalah saja, optimis akan hasilnya, bahwa Allah pasti akan mengabulkan keinginan dan usaha kita, kalaupun ternyata tidak dikabulkan atau tidak lancar, setidaknya kita sudah memiliki nilai kesungguhan atas usaha kita.

Allah Maha Penyembuh, mohonlah kepada Allah atas segala kesembuhan dari sakit yag kita derita, jangan pernah memohon kepada selainnya, sambil berusaha semaksimal mungkin untuk mencari obatnya dengan cara yang benar menurut syari’at Islam dan menurut ilmu serta akal sehat. Kalaupun ternyata tidak juga sembuh, yakinlah, bahwa Allah akan menilai kemuliaan atas usaha dan penyerahan diri kita kepada Allah swt.

Wallahu A’lam ……


Ma’rifatullah

February 25, 2009

Hal pertama dan terpenting dalam Aqidah Islam adalah mengetahui dan memahami Allah swt Sang Pencipta. Hal ini sangat penting dan utama, karena:

  • Allah yang menciptakan kita, maka sudah barang tentu kita harus mengetahui apa dan siapa Rabb (Tuhan) yang Maha menciptakan kita, langsung dari-Nya, bukan dari selainnya.
  • Allah yang akan meminta pertanggungjawaban kita dan memberi balasan terhadap amal kita, maka sudah barang tentu kita harus mengetahui apa yang diperintah-Nya dan apa pula yang dilarang-Nya, langsung dari-Nya, bukan dari selainnya.

Sebagaimana secara singkat Allah swt menjelaskan tentang diri-Nya dalam QS. An-Nas [114]: 1-3, sebagai:

  1. Tuhan Yang Maha Memelihara (RABB);
  2. Tuhan Yang Maha Menguasai/Merajai (MALIK); dan
  3. Tuhan Yang Maha Disembah (ILAH)

maka dengan pendekatan ini pula seharusnya kita mulai memahami Allah swt menurut Allah sendiri.

I. Allah adalah “al-RABB”

II. Allah swt adalah “al-MALIK”

III. ALlah adalah “al-ILAH”